
Dalam dunia bisnis teknologi, seringkali profitabilitas mengalahkan loyalitas “sedarah”. Fenomena inilah yang sedang terjadi antara Samsung Electronics (divisi ponsel) dan Samsung Display (divisi manufaktur layar). Laporan terbaru dari rantai pasok di China menyebutkan bahwa Samsung Display telah mengalihkan prioritas pengembangan panel OLED tercanggih mereka bukan untuk Galaxy S26, melainkan untuk iPhone 18 Series.
Langkah strategis ini memicu perdebatan hangat: Mengapa raksasa Korea Selatan ini membiarkan kompetitor utamanya “mencuri” start teknologi paling mutakhir?
1. Kegagalan BOE: Berkah bagi Samsung, Petaka bagi Galaxy
Akar permasalahan ini bermula dari BOE (Beijing Oriental Electronics). Selama beberapa tahun terakhir, Apple berusaha keras mendiversifikasi pemasok layarnya guna mengurangi ketergantungan pada Samsung. Namun, raksasa asal China tersebut dikabarkan menemui jalan buntu.
BOE disebut sebagai “titik lemah” dalam rantai pasok Apple saat ini. Mereka dilaporkan gagal memenuhi standar kualitas yang ekstrem dari Cupertino, terutama pada dua aspek krusial:
- Tingkat Kecerahan (Peak Brightness): BOE kesulitan mencapai angka nits yang konsisten tanpa mengorbankan masa pakai baterai.
- Teknologi LTPO+: Panel Low-Temperature Polycrystalline Oxide (LTPO) generasi terbaru yang memungkinkan refresh rate super dinamis masih menjadi “barang gaib” bagi BOE dalam skala produksi massal yang stabil.
Kegagalan BOE memaksa Apple untuk kembali “berlutut” pada duet maut Korea: Samsung Display dan LG Display. Karena Apple berani membayar harga premium untuk memesan seluruh kapasitas produksi panel terbaik, Samsung Display pun memilih untuk memprioritaskan kontrak raksasa tersebut.
2. Inovasi “Invisible Face ID” di iPhone 18
Alasan lain Apple sangat agresif memborong panel dari Samsung adalah ambisi mereka untuk menghilangkan Dynamic Island. Panel OLED tercanggih yang sedang dikembangkan Samsung Display kabarnya telah mengintegrasikan teknologi Under-Display Face ID.
Baca Juga
Teknologi ini menggunakan susunan piksel transparan yang sangat kompleks, memungkinkan sensor pengenalan wajah bekerja dari balik layar tanpa perlu lubang (notch/punch-hole) yang terlihat. Sejauh ini, hanya Samsung dan LG yang memiliki kemampuan teknis untuk memproduksi panel dengan transmitansi cahaya setinggi itu tanpa mengorbankan kualitas visual layar. Jika ini terwujud pada iPhone 18 Pro, maka Apple akan mencapai desain “full screen” murni sebelum Samsung Electronics sempat mengimplementasikannya secara sempurna di lini flagship mereka.
3. Nasib Galaxy S26: Stagnasi di Tengah Inovasi?
Berbanding terbalik dengan iPhone 18 yang diprediksi mendapat lompatan teknologi besar, lini Samsung Galaxy S26 justru diterpa isu stagnasi. Rumor menyebutkan bahwa Samsung Electronics akan tetap menggunakan spesifikasi panel yang identik dengan Galaxy S25 atau bahkan S24.
Mengapa ini terjadi? Ada beberapa analisis kuat:
- Efisiensi Biaya: Samsung Electronics tampaknya lebih fokus pada optimalisasi perangkat lunak dan efisiensi chipset (Exynos/Snapdragon) daripada meningkatkan perangkat keras layar yang sudah dianggap “cukup baik” oleh rata-rata pengguna.
- Prioritas Produksi: Dengan kapasitas pabrik Samsung Display yang sudah penuh dipesan oleh Apple, divisi ponsel Samsung mungkin tidak mendapatkan alokasi panel terbaru dalam jumlah yang cukup untuk produksi global Galaxy S26.
4. Dampak Bagi Konsumen dan Industri
Situasi ini menciptakan anomali pasar yang unik. Samsung Display, sebagai entitas bisnis independen, tentu mencari keuntungan maksimal. Menjual panel ke Apple dalam jumlah jutaan unit jauh lebih menguntungkan daripada menyimpannya secara eksklusif untuk divisi ponsel mereka sendiri yang penjualannya mungkin tidak sefantastis iPhone di segmen premium.
Namun, bagi pengguna setia Galaxy, ini adalah pil pahit. Mereka mungkin harus puas melihat inovasi tercanggih “saudara kandung” ponsel mereka justru dinikmati oleh pengguna iPhone.
Rekap Perbandingan Rumor Layar (2026):
| Fitur | iPhone 18 Pro (Rumor) | Galaxy S26 (Rumor) |
| Tipe Panel | LTPO+ Next-Gen (Samsung/LG) | Dynamic AMOLED 2X (Eksis) |
| Teknologi Kamera | Under-Display Face ID | Punch-hole Camera |
| Tingkat Kecerahan | Est. 3500+ nits | Est. 2600 nits |
| Inovasi Utama | Desain Tanpa Poni/Lubang | Optimalisasi AI & Efisiensi Daya |
Kesimpulan: Bisnis Tetaplah Bisnis
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam industri semikonduktor dan panel, tidak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan bisnis. Samsung Display membuktikan bahwa mereka adalah raja layar dunia yang tak tergantikan, bahkan ketika mereka harus “mengkhianati” saudaranya sendiri demi mengamankan kontrak triliunan rupiah dari Apple.
Apakah strategi Samsung Electronics yang memilih stagnasi layar pada Galaxy S26 akan menjadi bumerang? Atau justru mereka memiliki “senjata rahasia” lain yang tidak berhubungan dengan layar? Kita tunggu saja peluncuran resminya nanti.
