August 31, 2025

Aksi demonstrasi yang meletus di berbagai kota besar Indonesia sejak akhir Agustus 2025 terus menjadi sorotan internasional. Puncaknya terjadi setelah tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), yang terlibat dalam insiden tragis dengan aparat kepolisian pada Kamis, 28 Agustus 2025. Kematian Affan, yang dilindas kendaraan polisi saat sedang berpartisipasi dalam aksi protes, telah menjadi pemicu utama bagi eskalasi ketegangan sosial dan politik di tanah air.

Media asing, termasuk Reuters dan BBC, telah banyak menyoroti gelombang unjuk rasa ini sebagai ujian besar pertama bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang baru hampir setahun berkuasa. Demonstrasi ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari mahasiswa hingga pengemudi ojol, serta pekerja lainnya yang menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai semakin tidak berpihak pada rakyat kecil. Kematian Affan telah menjadi simbol kemarahan terhadap ketidakadilan ekonomi dan politik yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Kematian Affan: Simbol Kemarahan yang Meletus dalam Aksi Demonstrasi

Aksi unjuk rasa yang bermula di Jakarta pada 28 Agustus 2025 segera menyebar ke kota-kota lain seperti Bandung, Surabaya, dan Gorontalo, dengan massa yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, serta pengemudi ojol yang berfokus pada protes terhadap beberapa isu sosial, termasuk ketimpangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup yang semakin membebani masyarakat. Namun, tragedi kematian Affan Kurniawan, yang tewas dalam insiden dengan kendaraan taktis Brimob, telah menjadi titik balik dalam protes ini.

Affan, yang menjadi salah satu ikon perjuangan para pengemudi ojek online, meninggal setelah terlindas kendaraan Brimob saat sedang berpartisipasi dalam demonstrasi yang menuntut penghapusan tunjangan rumah bagi anggota DPR yang dianggap tidak relevan di tengah krisis ekonomi. Menurut laporan Reuters, insiden tersebut semakin memperburuk ketegangan antara masyarakat dan aparat keamanan.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kejadian tersebut mencerminkan keterkejutannya atas tindakan berlebihan aparat. “Saya telah memerintahkan agar insiden tadi malam diusut secara tuntas dan transparan, serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab,” kata Prabowo dalam pernyataannya kepada media.

Namun, meskipun Presiden Prabowo mengutuk tindakan aparat, kerusuhan yang dipicu oleh kematian Affan telah meluas dan merambah ke beberapa wilayah. Di Bandung, sebuah rumah aset negara dibakar, sementara di Makassar sebuah pos polisi hangus terbakar oleh massa yang marah.

Tuntutan Masyarakat: Kenaikan Upah, Penurunan Pajak, dan Penguatan Pemberantasan Korupsi

Protes yang dimulai dengan tuntutan untuk menghapus tunjangan rumah anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan, yang dinilai tidak adil mengingat kondisi perekonomian yang sedang terpuruk, akhirnya berkembang menjadi tuntutan lebih luas yang mencakup isu-isu fundamental seperti kenaikan upah, penurunan pajak, dan penguatan pemberantasan korupsi. Massa yang terlibat dalam aksi demonstrasi menuntut perubahan nyata dalam kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil.

Selain itu, demonstrasi ini juga menyoroti kesenjangan yang semakin melebar antara pejabat negara dengan rakyat. Banyak demonstran yang mengkritik kebijakan pemerintah yang terus memberikan fasilitas mewah bagi anggota DPR dan pejabat tinggi lainnya, sementara di sisi lain, rakyat kecil semakin terhimpit oleh inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Pendi Nasir, seorang pengemudi ojol berusia 43 tahun, menyampaikan kekecewaannya terhadap ketidakadilan yang terjadi. “Kami tidak ingin rekan kami menjadi korban lagi. Kami ingin penyelidikan yang transparan dan keadilan bagi Affan,” katanya dengan tegas.

Respons Internasional dan Dampak Ekonomi

Protes ini juga menarik perhatian media internasional seperti BBC, yang melaporkan eskalasi kerusuhan di berbagai kota besar Indonesia. BBC menyoroti bahwa selain ketidakpuasan terhadap tunjangan rumah bagi anggota DPR, banyak pengemudi ojol dan kalangan buruh lainnya juga menuntut perubahan kebijakan mengenai upah, kondisi kerja, dan pengurangan pajak.

Dampak dari kerusuhan ini juga tidak terbatas pada masalah sosial. Reuters melaporkan bahwa aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan ini telah memberikan dampak signifikan pada pasar keuangan Indonesia. Rupiah melemah sebesar 0,9 persen terhadap dolar AS, sementara indeks saham Indonesia jatuh hingga 1,5 persen. Hal ini mencerminkan ketidakpastian politik yang mulai memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Prosesi pemakaman Affan Kurniawan, yang dihadiri oleh ribuan rekan sesama pengemudi ojol serta sejumlah tokoh publik seperti Anies Baswedan dan Rieke Dyah Pitaloka, semakin memperjelas bahwa protes ini bukan sekadar mengenai tunjangan rumah anggota DPR, melainkan juga merupakan protes terhadap ketidakadilan sistemik yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Gojek, perusahaan tempat Affan bekerja, mengeluarkan pernyataan dukacita yang mendalam: “Di balik setiap jaket hijau, ada keluarga, selipan doa, dan perjuangan. Affan Kurniawan adalah bagian dari perjalanan itu, dan kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi kami semua.”

Krisis Sosial yang Semakin Dalam: Apa yang Bisa Diharapkan Selanjutnya?

Aksi demonstrasi ini mencerminkan ketidakpuasan yang semakin meluas di kalangan masyarakat Indonesia terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dirasa semakin meminggirkan kepentingan rakyat. Kemarahan yang semula difokuskan pada tunjangan rumah anggota DPR kini telah meluas menjadi tuntutan lebih besar untuk perubahan sosial dan ekonomi yang lebih adil.

Pemerintah kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Keputusan mengenai bagaimana merespons tuntutan rakyat akan menjadi kunci bagi stabilitas politik dan sosial di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto harus menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang tegas untuk menangani krisis ini, terutama dengan menjamin proses penyelidikan yang transparan terkait tewasnya Affan dan merespons tuntutan masyarakat dengan kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat.

Namun, bagi banyak kalangan, protes ini adalah cerminan dari rasa frustrasi yang lebih mendalam terhadap ketidakadilan struktural yang telah berlangsung lama. Jika tidak ada perubahan substansial dalam kebijakan ekonomi dan sosial, Indonesia mungkin akan menghadapi lebih banyak ketegangan dan protes serupa di masa depan.

Kematian Affan Kurniawan dan kerusuhan yang menyusulnya menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak akan diam lagi terhadap ketidakadilan yang terus menerus terjadi. Jika pemerintah ingin menghindari krisis sosial yang lebih besar, mereka harus segera mendengarkan suara rakyat dan bertindak cepat untuk melakukan perubahan yang nyata.