April 6, 2025

Briket arang merupakan salah satu bentuk energi alternatif yang banyak digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak maupun industri kecil. Bahan bakar ini dibuat dari limbah biomassa seperti serbuk gergaji, sekam padi, tempurung kelapa, dan limbah organik lainnya. Proses pembuatannya melibatkan pemampatan bahan-bahan tersebut hingga membentuk blok padat yang mudah disimpan dan dibakar.

Sejarah dan Penemuan Briket Arang

Meskipun sulit untuk menunjuk satu individu sebagai penemu briket arang, penggunaan arang sebagai sumber energi sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Namun, ide untuk memadatkan limbah arang menjadi bentuk briket mulai berkembang pesat pada abad ke-19, terutama di Eropa dan Jepang.

Salah satu tokoh penting dalam pengembangan briket arang adalah Ellis Charles Bailey, seorang insinyur asal Amerika Serikat. Pada tahun 1885, ia mematenkan metode pembuatan briket arang dari serbuk arang yang dicampur dengan bahan pengikat dan kemudian ditekan dalam cetakan. Penemuan ini menjadi dasar teknologi pembuatan briket modern dan mulai digunakan dalam industri rumah tangga maupun militer di berbagai negara.

Di Asia, terutama di Jepang, inovasi briket terus dikembangkan dengan memanfaatkan limbah pertanian. Setelah Perang Dunia II, pemerintah Jepang mendorong masyarakat untuk menggunakan briket sebagai alternatif batu bara yang mahal dan sulit diperoleh.

Perkembangan di Indonesia

Di Indonesia, penggunaan briket arang mulai dikenal pada era 1980-an, dan semakin berkembang sejak awal tahun 2000-an sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada LPG dan kayu bakar. Banyak peneliti dan praktisi lingkungan yang mengembangkan teknologi briket dari limbah pertanian, seperti tempurung kelapa dan serbuk gergaji. Salah satu tokoh yang dikenal aktif dalam promosi briket ramah lingkungan di Indonesia adalah Prof. Dr. Ir. Rachmat Sudibyo, yang turut mendorong pemanfaatan energi terbarukan dari bahan-bahan lokal.

Manfaat Briket Arang

Briket arang memiliki berbagai keunggulan, antara lain:

  • Ramah lingkungan, karena berasal dari limbah organik.
  • Ekonomis, karena biaya produksinya relatif murah.
  • Efisien, karena dapat terbakar lebih lama dan stabil.
  • Mengurangi deforestasi, dengan menggantikan kayu bakar sebagai sumber energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *